Cetak
Kategori: Berita
Dilihat: 586

Pada tanggal 18-20 Agustus lalu, Humas Itjen KKP turut mengikuti kegiatan Apresiasi Kehumasan Pemerintah 2017, dengan tema: “Sinergi Peran Humas Pemerintah di Era Digital”, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap di Yogyakarta. Acara tersebut terdiri dari 5 (lima) materi utama sebagai berikut:

  1. Sinergi Kehumasan KKP di Era Digital, narasumber sekaligus pengarah Sekretaris Ditjen Perikanan Tangkap.
  2. Menulis di Media Online, narasumber Bapak Arifin Asydhad selaku Pendiri Kumparan.
  3. Pelatihan infografis KKP: “Menjawab dengan Infografis Praktis”, narasumber Bapak Andi Muslim dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.
  4. Materi pelatihan singkat teknik fotografi, narasumber Bapak Risman Marah praktisi fotografi.
  5. Keprotokolan di Lingkungan KKP, narasumber dari Biro Kermas.

Dalam kesempatan acara apresiasi, Dirjen Perikanan Tangkap Bapak Sjarief Widjaja menegaskan pentingnya peran kehumasan dalam era digital saat ini, dimana banyak isu-isu negatif yang perlu dilawan secara tidak langsung melalui sinergitas dengan media Humas harus memperhatikan unsur-unsur komunikasi: sender, receiver, content, media dan noise, disamping harus mampu menyuarakan ke luar visi KKP yaitu laut sebagai masa depan bangsa dengan 3 pilarnya: sovereignity, sustainability, dan prosperity. Humas harus kreatif, responsif dan memanfaatkan teknologi.

Sesuai arahan Sekretaris Ditjen Perikanan Tangkap, perlu adanya sinergitas antar humas di lingkungan KKP sehingga data dan informasi yang keluar valid/tidak terjadi kesalahan, tidak ada deviasi, komprehensif, dapat dengan mudah diakses oleh publik, dan mempromosikan citra positif KKP. Hal lain yang ditekankan adalah perlunya penyampaian capaian kinerja, pengadaan barang/jasa, dan isu-isu strategis, sehingga publik dapat mengetahui dari sumber yang terpercaya.

Pada materi penulisan di media online, Bapak Arifin Asydhad pimpinan media Kumparan menjelaskan pentingnya branding, cara mengemas suatu informasi agar penikmat informasi menjadi tertarik dan setia mengakses. Beberapa trik yang disampaikan diantaranya: 1) kreatif dalam keywording, ada unsur kejutan, lugas/sederhana, namun dengan tetap logis, dan sesuai fakta yang ada. Jika ada istilah asing/khusus agar dijelaskan dengan sederhana maknanya; 2) membaca ulang konsep tulisan sebelum rilis untuk melakukan koreksi jika masih ditemui kesalahan, 3) sebisa mungkin menggunakan infografis dan pointer-pointer, 4) menulis bukan untuk sendiri, artinya apa yang ditulis hendaknya telah mengantisipasi minat calon pembaca, 5) Menghindari paragraf panjang, namun dengan tidak menyisakan pertanyaan dari pembaca atas ide pokok paragraf, 6) konsisten dalam penyebutan nama, nomenklatur, tempat, dsb.

Pada materi infografis, narasumber menjelaskan bahwa sebagai humas pemerintah harus dapat meng-counter isu-isu negatif dengan penyajian infografis yang simpel, mudah diingat, eyecathing, dengan menggunakan template-template yang sederhana agar lebih cepat dibuat. Pada sesi ini para peserta juga diberikan materi praktek membuat infografis dengan tema; “laut masa depan bangsa”.

Pada materi keprotokolan, narasumber menjelaskan bahwa lingkup keprotokolan tata tempat, tata upacara dan tata penghormatan. Selama ini masih sering ditemui kesalahan keprotokolan dalam suatu acara karena tidak dipahaminya keprotokolan oleh penyelenggara acara, seperti urutan tempat duduk, hak menempati kursi bagi perwakilan pejabat yang ditunjuk, dsb.

Pada materi pelatihan singkat teknik fotografi, Bapak Risman Marah menyampaikan perlunya koordinasi antara humas dengan protokoler/pemandu acara dalam menata layout Hal ini penting mengingat peran humas yang vital dalam mendokumentasikan seluruh kegiatan, baik yang terencana maupun yang bersifat insidentil, sehingga pengambilan foto/video dapat dilakukan dengan optimal. Terkait hal tersebut, dibutuhkan humas yang cepat, menguasai informasi, teknologi digital dan internet, serta harus terdepan dalam menyampaikan informasi. Untuk itu perlu diperhatikan timing pengambilan gambar/video, situasi dan adat/etika setempat, sarana/prasarana yang memadai (seperti kamera cadangan), dan kreativitas mengatasi kondisi yang kurang mendukung pemotretan/pengambilan video, serta adanya hubungan yang baik antara awak media luar KKP. Pada akhir acara diadakan praktek singkat fotografi.

 

(/B.AS)